
Dalam hidup bersosial antara satu sama lain, manusia dituntut untuk mempelajari akhlaq atau moral agar dapat menjalani hidup dengan baik dan merupakan kebutuhan ruhani yang perlu untuk dicukupi dengan mempelajari dan mengamalkannya. Islam sebagai agama rohmatal lil alamin memprioritaskan hal tersebut dan menghadirkan setiap jawaban dari problematika moral. Oleh karena itu islam muncul ditengah-tengah keterpurukan moral merupakan alasan dari prioritas moral tersebut.
Begitu banyak pelajaran tentang akhlaq yang diajarkan oleh agama yang dibawa oleh para nabi tersebut, baik itu suatu perkara yang remeh atau perkara yang besar. termasuk dari macam akhlaq tersebut adalah menghormati yang lebih tua.
Adapun, salah satu dalil yang menunjukkan tentang pentingnya menghormati yang lebih tua, subagaimana yang disabdakan nabi SAW: "bukanlah termasuk golongan kamiorang yang tidak menyayangi orang yang muda di antara kami, dan tidak mengetahui kemuliaan orang yang tua di antara kami."(HR. Tirmidzi) Kemudian, Imam Turmudzi menjelaskan kandungan hadits tersebut "berkata sebagian ulama': bahwa makna sabda nabi SAW bukan termasuk golonganku adalah bukan termasuk sunnah kami bukan termasuk adab kami." Jika ditinjau dari beberapa pendapat hadits dan ulama', maka dapat ditarik beberapa perincian yang patut diamalkan terhadap orang yang lebih tua:
Pertama, memberinya kesempatan untuk berbicara terlabih dahulu, baik itu dalam suatu majlis ta'lim, dalam berbicara tatap muka, atau dalam bermusyawaroh. Adab semacam inilah yang perlu bagi kita untuk dibiasakan tidak hanya sekali dilakukan.
Para sahabat nabi sangat memperhatikan etika yang satu ini, seperti yang diceritakan sahabat Abdullah bin Sahl dan Mahishoh bin Mas'ud RA bahwa mereka berada di perang Khoibar, kemudian terbunuhlah Abdullah bin Sahl, lalu setelah kejadian tersebut Abdur Rohman bin Sahl dan Mahishoh bin Mas'ud mendatangi nabi SAW. Lalu mereka menceritakan perihal kerabatnya yang terbunuh, dalam pembahasan tersebut Abdur Rohman bin Sahl bertanya terlebih dahulu kepada nabi SAW padahal ia berumur lebih muda dari Mahishoh bin Mas'ud, kemudian nabi SAW menanggapi dengan kata-kata "yang lebih tua, yang lebih tua." nabi SAW bermaksud agar yang lebih tua dahulu yang bertanya.
Namun etika tersebut berlaku bila memang yang lebih dewasa ada kemungkinan uantuk berbicara. Andaikan, yang lebih dewasa tidak ingin, atau tidak ada kemungkinan untuk berbicara maka boleh.
Hal tersebut seperti yang diceritakan Ibnu Umar RA bahwa di suatu kesempatan nabi SAW meminta sohabat untuk mengabarkan buah yang seperti orang muslim. di dalam pikiran Ibnu Umar terlintas bahwa yang dimaksud nabi adalah pohon kurma, namun karena ada Sayyidina Umar dan Sayyidina Abu Bakar, sohabat Ibnu Umar terhalang untuk menjawab perkataan nabi tersebut, kemudian nabi bersabda "itu adalah pohon kurma." setelah itu pulanglah Ibnu Umar bersama ayahnya, lantas Ibnu Umar berkata kepada ayahnya "wahai ayahku sebenarnya terlintas di dalam pikiranku bahwa yang dimaksud nabi adalah pohon kurma, namun ada sohabat Abu Bakar yang menghalangiku untuk menjawab" lalu ayah beliau menanggapi perkataannya "wahai anakku apakah karena sohabat Abu Bakar yang menghalangimu menjawab, padahal beliau tidak ingin berbicara."
Kedua, berusaha untuk tidak duduk di tempat yang lebih tinggi dari tempat duduknya. Bahkan, kita sadar kalau etika ini merupakan hal yang tidak pantas untuk dilanggar, meskipu tanpa diingatkan oleh dalil-dalil yang kuat.
Adapun untuk etika yang satu ini dilandasi oleh sebagian landasan yang ada dalam kitab al-Jami' li Akhlaqi ar-Rowi wa Adabi as-Sami', diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi bahwa Ya'qub bin Sufyan Rahimahullah bercerita: "telah sampai kepadaku kabar bahwa al-Hasan dan Ali, anaknya Sholih, adalah dua anak yang kembar: al-Hasan lahir sebelum Ali, tidaklah al-Hasan dan Ali duduk bersama di sebuah majlis kecuali Ali duduk lebih rendah daripada al-Hasan; dan tidaklah Ali berbicara ketika al-Hasan berbicara apabila keduanya berada dalam satu majlis.
Ketiga, memanggilnya dengan sebutan yang baik. Nama biasanya diselingi gelar atau sebutan dari orang tersebut, kadang kala terhormat bahkan hina. Maka dari itu, jika memang tata krama kepada yang lebih tua diterapkan maka kita harus memanggilnya sesuai kedudukannya seperti kang, mas, ong, pak, atau jika memiliki gelar dalam profesinya seperti ustadz, dokter, kyai, dll.
Tata krama memanggil yang lebih tua dengan sebutan yang baik ini telah lama menjadi tradisi di jawa dan sekitarnya pada umumnya. Tiada lain, hal ini diusung oleh salah satu pemuka agama di masa kerajaan Majapahit Raya yakni Raden Rohmatullah atau yang biasa disebut Sunan Ampel. di masa itu ia diutus sang Raja Wijaya (raja Majapahit) kala itu untuk memperbaiki moral pejabat dan rakyat yang semakin mengenaskan.Yang mana, salah satu ajaran beliau adalah menyuruh memanggil "kang" kepada yang lebih tua dan memanggil "ong" kepada yang sangat tua usianya.
Keempat, mengucapkan salam terlebih dahulu kepada yang lebih tua. Hendaknya, ketika yang lebih muda bertemu dengan yang lebih tua, maka yang mudalah yang terlebih dahulu mengucapkan salam. Selain salam tersebut merupakan penghormatan, di sisi lain salam juga merupakan tanda hubungan harmonis antara yang lebih muda dan yang lebih tua.
Adapun, dalil dari tata krama tersebut sebagaimana hadits yang tertulis dalam kitab bulughul marom:
Dari Abu Huroiroh RA bahwa Rosulullah SAW bersabda: "Hendaklah salam itu diucapkan yang muda kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak."(Mutafaq Alaih) Menurut riwayat Muslim: "dan yang menaiki kendaraan kepada yang berjalan."
Kelima, tidak mendahului yang lebih tua dalam berjalan. di balik tata krama ini ada kisah yang luar biasa yang bisa dipetik hikmahnya. Sebagaimana yang ditulis oleh Syekh Nawawi al-Jawi dalam kitab Qomi' at-Tughyan, bahwa Sayyidina Ali RA pernah telat jama'ah sholat shubuh lantaran ada orang tua nasrani yang menghalangi jalannya. Semula Sayyidina Ali tidak mengetahui kalau dia orang tua nasrani, beliau baru tahu ketika orang tua tersebut berjalan terus tidak berbelok menuju masjid.
Setelah beliau sampai di masjid beliau menemui jama'ah sholat masih dalam keadaan ruku' yang sangat lama. Sayidina Ali langsung mengikuti jama'ah tersebut. stelah selesai sholat para shohabat bertanya: "tidak biasanya anda ruku' selama itu, ada apa gerangan?"beliau menjawab "ketika ruku' tiba-tiba Malaikat Jibril menahan pungungku." para sohabat bertanya kembali "mengapa hal itu terjadi?" nabi menjawab "aku pun tidak tahu."
Kemudian datanglah Malaikat Jibril AS dan berkata: wahai Muhammad, sesungguhnya Ali waktu itu bergegas menuju masjid namun ia terhalang oleh kakek tua nasrani yang menghalangi jalannya. Dengan rasa hormat ia tidak ingin mendahului kakek tua tersebut. Sehingga aku menahan punggungmu dan Allah memerintahkan Malaikat Mikail menahan matahari sehingga tidak terbit dahulu sampai jama'ah selesai.
Demikian tadi adalah beberapa tata krama yang perlu dilakukan dalam menghormati yang lebih tua. Namun, sebenarnya masih banyak tata krama yang harus dilakukan dalam menghormati yang lebih tua yang tidak bisa ditulis dalam artikel ini.
Memang dalam segala hal yang lebih tua perlu didahulukan. Hal itu berlaku apabila tidak ada dalil yang menunjukkan kedudukan lain yang perlu didahulukan, seperti mendahulukan orang yang lebih berilmu dalam menjadi imam sholat dan yang paling kanan dalam jamuan makan.






0 komentar:
Posting Komentar